Wednesday, September 13, 2006

ILMU TANPA IMAN MENYESATKAN

“…Allah akan mengangkat(meninggikan)kualitas(derajat)orang-orangyang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan.Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”.(Al-Mujadillah ayat 11).
“Dan diantara manusia(ada)orang yang mempergunakan perkataan(ilmu)yang tidak berguna untuk menyesatkan(manusia)dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”(Lukman.6)

Islam adalah sebuah doktrin kebenaran yang menuntut setiap umatnya tidak mengabaikan pengetahuan.Sebab itu merupakan azas dalam prinsip keislaman.Bahkan ciri khas dari masyarakat Madani(civil society)adalah memiliki representasi ilmu.
Idealnya sebuah masyarakat itu adalah sebagaimana model masyarakat yang pertama kali di disaind(dibentuk)oleh Rasulullah 14 abad yang silam di kota Madinah Berjalannya sebuah system kemakmuran,keadilan,dan kebersamaan cita-cita,karena itu ditentukan pada letak dasar kualitas SDM yang ada.Dimana pribadi-pribadi sahabat yang melaksanakan amanat dalam system social,ekonomi,politik,budaya serta kemiliteran itu dasar keimanan dan keilmuan.

Kadar keimanan yang sangat tinggi menentukan pada keilmuan yang dimiliki seseorang.Karena iman ibarat pengetahuan yang bersandar pada kesadaran internal yang muncul pada ma’rifat keyakinan dan kepercayaan yang bersandar dari cahaya ilahi.Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh hasil dari proses akal semata dengan sarana(instrumen)panca indera.Oleh sebab itulah iman dan ilmu adalah dua alat yang amat vital dn simultan.Hal ini diperkuat pada firman Allah Swt surah Al-Imran ayat 190-191 yang artinya:”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu)orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Rapuhnya Tatanan masyarakat

Keimanan (agama)dan ilmu merupakan salah satu ciri model masyarakat madani(civil society)dalam terwujudnya tatanan masyarakat yang egaliter (berkeadilan)dan menegakkan hokum secara otoritas pada syar’iah.Maka wajarlah janji Allha yang mengatakan:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat)Kami itu,maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS.Al-A’raf:96)
Namun dalam perjalanannya,sejarah peradaban umat,makin hari dalam dasa warsa ini mengalami destruksi(kehancuran atau kerapuhan)pada aspek ilmu pengetahuan yang tidak bertumpu pada keimanan namun pengetahuan yang didasarkan pada logika semata.Pada akhirnya masyarakat modern merasa kehilangan semangat keimanan dan lebih sadis lagi,masyarakat kita sudah mersa logic of technik(teknologi pengetahuan)lebih unggul dari otoritas ilahiyah(keTuhanan).Rapuhnya masyarakat ini ditandai adanya kehancuran moral,bencana demi bencana,kedzaliman dimana-mana,korupsi merajalela,kolusi membudaya dan itu semua yang melakukannya ternyata orang-orang yang pandai dan berilmu pengetahuan.Di sisi lain mereka lemah pada aspek dzikir intuisi(pengetahuan qalbu).Pendidikan formal saat ini kurikulumnya lebih memuat pada orientasi hasil yang bersifat materialisme semata dan membuang aspek keimanan,itu dianggap lebih memajukan masyarakat (up to date)dibandingkan masyarakat yang memiliki idealisme kepada syari’at.

HIKMAH ILMU YANG DILANDASI IMAN

Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali(Imam Al-Ghazali)seorang ahli komsep pendidikan mengatakan bahwa:”Ilmu pengetahuan yang berkualitas pada fungsinya adalah ilmu yang memilki kekuatan akal imani (atau pengetahuan yang memiliki dasar cahaya iman)”Diantaranya fungsi ilmu itu adalah:

1.Menghantarkan Setiap Manusia Semakin tunduk dan takut kepada Allah.

“…Sesungguhnya yang takut kerpada Allah di antara hamba-hamba-Nya,hanyalah para ulama,sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS.Al-Faathir:28)

Dalam hal ini jelaslah konsep Al-Ghazali sangat relevan dengan hancurnya peradaban ummat karena masyarakat modern,berciri khas paa aspek akal semata tanpa pertautan wahyu(agama).Maka kita melihat wajah masyarakat Indonesia masih seperti ini,dimana kasus pelanggaran hukum justru yang melanggar adalah aparat hukum,kasus korupsi yang melanggar adalah pejabat negara dan lain-lain.Kerapuhan masyarakat merupakan kesalahan pada konsep pendidikan yang belum mampu menghantarkan manusia pada posisi yang benar,yaitu posisi kesinambungan antara beribadah kepada Allah dan berkhidmat kepada masyarakat (Hablum minallah dan hablum minannas).

2.Menghantarkan Manusia Mampu Melihat (kesadaran internal)atas aib-aib Pribadi.

“Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi,lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,tetapi yang buta,ialah hatinya yang ada di dalam dada”.(QS.Al-Hajj:46)

Fenomena-fenomena sekarang ini,dimana manusia merasa bangga apa yang dimiliki dan didapati karena ilmu pengetahuannya.Namun dia tidak sadar akan kelemahan dan kekurangan yang ada pada dirinya.Sekarang bukan zamannya lagi untuk membentuk masyarakat yang taqlid buta,hanya ikut-ikutan tanpa sumber yang jelas.Namun potret yang tergambar tetap saja seperti tidak pernah mendewasakan masyarakat.Banyak yang mau membela seorang kyiai meskipun dia cacat akhlaknya,yang penting ilmu dan kekramatannya.Oleh karena itu ulama kita mengatakan “ilmu itu letaknya didada bukan diakal”.Banyak orang sekarang dengan ilmunya tetapi tidak bisa melihat kedalam jiwa apakah dia masih kotor ataukah sudah bersih,sehingga kepribadiannya bisa berkualitas (kualitas insan).

3.Menghantarkan Manusia Dapat Mengenal (ma’rifat)Kedudukannya sebagai Hamba Allah

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan masnusia itu melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”(QS.Adz-Dzariat56)

Terasingnya masyarakat dewasa ini karena ilmu pengetahuan yang menghantarkan manusia kealam materi dan nilai-nilai keagamaan hilang dalam panggung kehidupan.Kesuksesan seseorang ditentukan pada keberhasilan memperoleh harta sebanyak-banyaknya,kedudukan dan pangkat yang tinggi serta membentuk opini kehidupan modern yang memprioritaskan pada pembangunan fisik dan kualitas manusia sebagai posisi hamba lenyap dari paradikma kehidupan.

WASPADAI ILMU TANPA IMAN

Distorsi (penyimpangan)manusia disebabkan karena melaksanakan pengetahuan bukan berdasarkan cahaya iman itulah penyebab malapetaka dan bencana diatas muka bumi.Persoalan-persoalan ekonomi,sosial,budaya (peradaban),politik maupun hukum dan keamanan tidaklah bertitik tolak pada koridor syari’at Allah.Untuk menemukan jati diri manusia sebagai kualitas makhluk yang paling mulia didasarkan pada dimensi keilmuan dan dimensi keimanan (spirirtual)artinya nilai-nilai keTuhanan lebih didahulukan dari akal (rasio)manusia yang sering mengaburkan pandangan yang benar dan tepat.

Hambatan Mengenal Allah

“Dan berkatalah Fir’aun,’Hai Haman,buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,(yaitu)pintu-pintu langit,supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.’Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu,dan dia dihalangi dari jalan(yang benar);dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian’(QS Al-Mu’min:36-37).

Dulu di Uni Sovyet,dalam sebuah kelas,seseorang guru kelas 6 sekolah dasar mengajukan pertanyaan kepada murid-muridnya,”Apakah kalian bisa melihat saya?Semua murid menjawab,”Ya.”Guru berkomentar,”Jadi saya ada.””Apakah kalian dapat melihat papan tulis?”Tanya guru selanjutnya.Serentak mereka menjawab,”Ya.””Jadi ,papan tulis ada,”timpal guru.”Apakah kalian melihat meja?”Tanya guru lagi.Murid-muridpun menjawab,”Ya.””Berarti meja ada,”ulas guru.”Nah sekarang,”Tanya guru lagi ,”Apakah kalian dapat melihat Allah?”Hampir semua murid menjawab,”Tidak.””Berarti Allah tidak ada,”vonis guru.
Menanggapi kejadian ini,seorang murid Muslim tampil bertanya,”Apakah kalian bisa melihat akal pak guru?””Tidak,”jawab teman-temannya serentak.Murid jenius ini lantas mengatakan,”Berarti akal pak guru tidak ada.”Dalam cerita lain,kita juga pernah mendengar seorang guru sekolah dasar berusaha menyesatkan murid-muridnya dengan melontarkan pertanyaan seperti ini,”Mintalah permen kepada saya,maka saya akan memberinya.”Guru lalu melanjutkan,”Coba sekarang kalian minta permen kepada Tuhan.Kalau Tuhan ada,pasti Ia akan mengabulkan permintaanmu.”
Kisah-kisah semacam ini adalah salah satu cara yang dilakukan orang-orang kafir untuk memurtadkan anak-anak Muslim.Minimal mereka ingin membuat umat Islam ragu akan eksistensi Allah SWT.Sebagai Pencipta dan Penguasa dirinya dan alam semesta.Upaya ini dikenal dengan ghazwul fikri (perang pemikiran)untuk melemahkan dan merontokkan aqidah dan moral umat Islam dalam melakukan perjuangan (jihad)di jalan Allah.
Al-Qur’an al-Karim memberikan informasi kepada kita bahwa untuk sampai kepada keimanan,orang-orang kafir di setiap zaman selalu mensyaratkan bahwa Allah harus bisa diindera.Ini adalah sebagian informasi yang di ceritakan Al-Qur’an untuk mengingatkan alasan-alasan pensyaratan itu,yang pada kenyataannya adalah penyakit yang diakibatkan oleh penggambaran yang rusak dan salah.Al-Qur’an meringkaskan bahwa penyebab dari penyakit itu adalah;kebodohan,kesombongan,penyimpangan,dan,kezaliman.
Pertama,kebodohan.Kebodohan (al-jahl)dalam bahasa Arab kadang dikatakan juga sebagai azh-zhulm (kegelapan,karena orang bodoh adalah mereka yang hanya memiliki sedikit ilmu pengetahuan.Allah SWT menegaskan,
“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata,’Mengapa Allah tidak (langsung)berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?’Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu;hati mereka serupa.Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin”(QS Al-Baqarah:118).
Ayat ini menunjukkan bahwa pertanyaan semacam ini bukanlah berasal dari orang-orang berpengetahua,akan tetapi celoteh orang-orang bodoh.Ocehan seperti itu bukanlah barang baru,tetapi selalu saja,dulu dan sekarang,merupakan logika orang-orang kafir yang ditimbulkan sebagai akibat dari kekacauan berpikir.Akhirnya ayat ini menetapkan bahwa metode untuk mengenali kepada Allah adalah melalui ayat-ayat-Nya,yaitu bukti-bukti kekuasaan-Nya yang menunjukkan eksistensi-Nya.
Kedua,kesombongan.Sombong (al-kibr)dalam sebuah hadits Rasulullah SAW diartikan sebagai batharulhaq(menolak kebenaran).Di Indonesia sombong sebagai terjemahan untuk al-kibr sering disinonimkan

dengan angkuh.meski kurang tepat,orang yang angkuh biasanya memilki sifat serba lebih dibanding orang lain.Mereka kerap menolak kebenaran bila kebenaran itu berasal dari orang lain yang menurutnya memiliki derajat lebih rendah darinya.
Orang-orang yang memilki sifat al-kibr bukan hanya merasa serba lebih dari orang lain.Mereka bahkan merasa lebih tinggi dari Allah SWT yang menciptakannya.Na’udzubillahi min dzalik.Allah SWT berfirman,
“Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya)dengan Kami,’Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa)kita (tidak)melihat Tuhan kita?’Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan)kezaliman.Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan merela berkata,’Hijran mahjuuraa’”(QS Al-Furqon:21-22).
Kalau pada ayat sebelumnya (QS Al-Baqarah:118),mereka ingin mendengar Allah SWT berbicara langsung kepadanya,maka pada ayat ini,mereka ingin melihta sosok dan rupa Allah secara langsung.Akal mereka belum mampu mencerna,bahwa dalam kehidupan mereka sehari-hari pun tidak semua yang nereka yakini keberadaannya dapat dilihat oleh mereka.
Dalam ayat ini,Allah SWT,menjelaskan bahwa alam bukan hanya alam dunia tempat manusia hidup yang serba kasat mata.Alam dunia (alam syahadah/nyata),bukanlah alam ghaib.Dan manusia adalah makhluk nyata,bukan makhluk ghaib.Jika menurut hokum alam nyata,jin dan malaikat tidak bisa dilihat-kecuali mereka menampakkan diri-maka bagaimana mungkin manusia dapat melihat Allah?Jadi,keinginan mereka untuk melihat Allah SWT bukanlah untuk mengokohkan keyakinan,akan tetapi berasal dari kesombongan mereka.Keinginan itu bukan berasal dari fitrah,sebagaimana permohonan Nabi Musa As untuk melihat Allah ,akan tetapi berasal dari penyimpangan berpikir.
Ketiga,penyimpangan Al-Qur’an menceritakan tentang Fir’aun,
“Dan berkatalah Fir’aun,Hai Haman,buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,(yaitu)pintu-pintu langit,supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.’Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu,dan dia dihalangi dari jalan (yang benar);dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”(QS Al-Mu’min:36-37).
Langkah yang ditempuh oleh Fir’aun untuk mengenal Allah Swt adalah langkah yang salah dan menyimpang,Bahkan terkesan suatu pelecehan terhadap kebesaran dan keagungan Allah.Oleh karena itu,Allah Swt menegaskan bahwa “Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk,dan dia dihalangi dari jalan (yang benar).”
Keempat,kezaliman.Zalim artinya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya,karena melampaui batas.Atau melakukan sesuatu tidak berdasarkan kebenaran.Zalim lawan dari adil.Dalam kezaliman porsi keburukan lebih banyak ketimbang kebaikan.
Orang-orang Yahudi pada masa Nabi Musa as mensyaratkan melihat Allah untuk sampai kepada keimanan.Sekali lagi,permintaan ini bukan berasal dari kejernihan hati,akan tetapi dari kezaliman dirinya sendiri,sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt.,
“Ahli Kitab meminta kepadamu agar akamu menurunkan kepada mereka sebuah kitabn dari langit.Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu.Mereka berkata,Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’Maka mereka disambar petir karena kezalimannya,dan mereka menyembah anak sapi,sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata,lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian.Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata”(QS An-Nisa’:153).
Kalau kita ingin dekat dengan Allah Swt,rawatlah keimanan yang tertanam di dassar qalbu,agar keimanan itu makin kokoh dan mampu menjadi petunjuk jalan,sebagaimana di nyatakan Allah Swt,dalam firman-Nya.”…Dan barang siapa beriman kepada Allah,niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya…”Semoga kita termasuk orang yang mengenal Allah Swt dengan sebaik-baiknya.Wallahu a’lam bishshawab.

MENCOBA MEMAHAMI TAQDIR
DARI OEDIPUS REX HINGGA JABARIYAH DAN QADARIYAH

Sejak zaman dahulu masalah taqdir sudah dianggap sebagai misteri terbesar bagi ummat manusia,disamping bersifat misterius taqdir juga menjadi sumber ketakutan,ini dikarenakan adanya anggapan,khususnya dikalangan masyarakat purba,bahwa taqdir adalah suratan nasib yang tak mungkin terelakkan lagi,betapapun manusia berdaya upaya melawannya.Keyakinan seperti ini tercermin misalnya dalam kisah Oedipus Rex(Raja Oedipus) karangan Sophocles,dramawan besar Yunani yang hidup sekitar abad kelima sebelum Masehi.Dalam drama tragedy ini diceritakan bahwa Oedipus semasa anak muda mendengar ramalan dari seorang Orocle (dukun Yunani) bahwa dia akan membunuh ayahnya dan mengawini Ibunya sendiri.Untuk menghindari ramalan terkutuk itu Oedipus kemudian lari meninggalkan kedua orang tuanya dan pergi mengembara.Namun langkahnya itu justru membawanya kepada alur taqdir yang telah disurtkan baginya oleh para dewa.
Ditengah perjalanan dia terlibat dalam sebuah insiden dan membunuh seorang tua pengendara kereta,yang kemudian ternyata adalah ayah kandungnya yang asli.Dia juga memenangkan sebuah sayembara yang hadiahnya adalah tahta dan seorang permaisuri,ternyata pula bahwa sang permaisuri yang sudah janda ini adalah wanita yang telah melahirkannya kedunia namun kemudian menyuruh orang agar membuang bayinya karena adanya ramalan seperti yang didengar Oedipus itu.Terungkap pula bahwa kedua orang tuanya yang membesarkannya selama ini hanyalah orang tua angkat,bukan ayah dan ibunya sendiri.Maka dengan rasa putus asa,Raja Oedipus,dihadapan anak-anak yang juga saudara-saudara kandungnya sendiri dengan cara mencopot kedua matanya sendiri dan pergi meninggalkan istana.
Kepercayaan bahwa taqdir adalah suratan nasib yang sudah tak bisa dihindarkan lagi dikalangan Teolog Barat dikenal dengan sebutan Determinisme,Dalam sejarah Islam kepercayaan serupa juga pernah muncul paham serupa dengan sebutan Jabbariyah,Kepercayaan ini bahkan lebih riil dan komperhensip ketimbang paham Yunani Kuno sebagaimana yang dicerminkan dalam kisah Oedipus itu.
Menurut pandangan Jabbariyah,Tuhan tidak saja menentukan garis perjalanan hidup manusia ,melainkan juga kehendak dan perbuatannya ,dengan perkataan lain manusia tidak memiliki kebebasan dalam paksaan (Jabr)Tuhan.Dengan demikian menurut pandangan ini,manusia tidak bisa dituntut pertanggungjawaban atas perbuatannya sebab Semua itu adalah kehendak Tuhan.Pandangan ini mengambil alasan dari ayat –ayat Al-Qur’an sendiri,semisal:”Dan kalau Allah menghendaki,niscaya Dia menjadikan kamu satu ummat (saja),tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki –Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki –Nya”.(QS.16:93)
Tentang kejahatan penguasa,Ignaz Goldziher dalam bukunya An Introduction to Islamic teologi and law,Mengutip ucapan Qadariyah awal yang menyatakan bahwa,”Raja-raja ini menumpahkan darah kaum muslim dan merampas harta mereka dengan cara yang tidak halal,dan mereka mengatakan bahwa perbuatan mereka itu adalah konsekwensi Qadha dan Qadar.
Dengan sendirinya hal ini mendapat reaksi keras dari para pemimpin masyarakat yang bertanggung jawab memelihara kesucian aqidah dan moral ummat .Diantaranya ialah Imam Hasan Al-Bashri,Seorang ulama dan tokoh Sufi dari Basrah.Mereka ini lalu mengemukakan apa yang disebut sebagai pandangan Qadariyah,yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya bebas menentukan kehendak dan melaksanakan perbuatannya,diantara ayat yang menjadi pijakan dasar pemikiran ini,adalah,”Dan katakanlah,kebenaran itu dari Tuhanmu,maka barangsiapa hendak (beriman),silakan dia beriman ,dan barangsiapa berkehendak (untuk kafir),silahkan dia kafir.”(QS.Al-Kahfi,18:29).
Sebagaimana terlihat diatas baik paham Jabbariyah maupun Qadariyah kedua-duanya mengklaim pada pijakan pada Kitab suci Al-Qur’an,yamg dalam kenyataannya memang memiliki dua kelompok ayat yang jika dibaca terpisah dan ditafsirkan secara apriori akan menghasilkan dua macam pandangan yang kontradiktif seperti Jabbariyah dan Qadariyah diatas.Untuk mengatasi persoalan ini satu penafsiran telah diajukan yang secara ringkas bisa dinyatakan sebagai berikut:Bahwa meskipun Al-Qur’an mengatakan secara eksplisit bahwa Allah lah yang menyesatkan atau memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakinya namun penyesatan dan pemberian petunjuk tersebut tidaklah dilakukan dengan tak semena-mena.Pada dasarnya Allah telah menawarkan petunjuk (hidayah)kepada seluruh manusia tanpa pandang bulu,tapi diterima atau tidaknya petunjuk itu tergantung pada kehendak manusia itu sendiri,seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an,Surah Al-Kahfi 18:29 yang dikutip diatas.Orang yang tak mau menerima petunjuk disebabkan factor-faktor tertentu,seperti keangkuhan,gengsi,takut kehilangan kedudukan di masyarakatnya dan sebagainya,akan tertutup hatinya dan terjerumus kejalan kesesatan,singkatnya kehendak Allah yang nampaknya tak semena-mena dalam Al-Qur’an sesungguhnya tak lepas dari sebab-sebab yang ada pada manusia sendiri,sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an mengenai Kaum Nabi Musa as:”Maka tatkala mereka berpaling(dari kebenaran),Allah pun memalingkan hati mereka,dan Allah tiada memberi petunjuk kepada Kaum yang fasik.”(QS.Al-Shaff 61:5).Ayat-ayat tentang kehendak Tuhan yang tidak menyatukan antara sebab dan akibat,sebagaimana halnya ayat ini mestilah dicari sebabnya ditempat lain.



Sumber:Az-Zahra